Kamis, 07 November 2019

Sejarah Asia


Judul   : Efektifitas South Asia Free Trade Agreement (SAFTA) Dalam Meningkatkan Liberalisasi Perdagangan Intra-Kawasan South Asian Arrangement Of Regional Cooperation (SAARC) Tahun 2007-2010
Jurnal   : Jom FISIP Volume 2 No.1 Tahun 2014
Penulis : Dilika Putri

Latar Belakang
            Kawasan Asia merupakan salah satu kawasan yang kemajuan tingkat ekonomi negara-negara di dalamnya menjadi sorotan dunia sejak tahun 1990-an. Ada beberapa negara yang muncul menjadi macan Asia, seperti Jepang, China, Korea Selatan, Singapura, Taiwan, India, bahkan Indonesia. Negara-negara tersebut berasal dari regional Asia Timur, Asia Selatan, dan Asia Tenggara yang di dalamnya terdapat masing-masing organisasi regional. Namun demikian, tidak dapat disangkal bahwa kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara menjadi kawasan yang paling maju dalam hal pertumbuhan ekonomi, terlihat dari total GDP, GNP, dan tingkat perdagangan intra-kawasannya ditambah dengan diadakannya liberalisasi perdagangan dalam kawasan tersebut. Sebaliknya, kemajuan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Selatan dan Asia Tengah cenderung tidak terlihat, walaupun ada organisasi yang ditujukan untuk memperkuat kerjasama ekonomi.

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja hambatan yang menyebabkan SAFTA kurang berhasil dalam proses integrasi ekonomi SAARC. Secara lebih rinci tujuan penelitian ini dapat dilihat pada uraian berikut:
1. Untuk menguraikan ketidakberhasilan SAFTA dalam meningkatkan liberalisasi perdagangan intra-kawasan SAARC pada tahun 2007-2010.
2. menguraikan hambatan-hambatan dalam meningkatkan liberalisasi perdagangan intra-kawasan SAARC.

Pembahasan
A.    Potensi Ekonomi Negara-Negara Kawasan Asia Selatan
            Sektor pertanian merupakan sektor yang mendominasi dalam struktur ekonomi di Asia Selatan, yaitu mencapai sekitar sepertiga dari total GDP dan dua pertiga dari total pekerjaan di kawasan tersebut. Sedangkan sektor manufakturnya banyak didominasi oleh tekstil dan pakaian, serta pelaksanaan industri baja, aluminium, petrokimia, dan peralatan lainnya yang sedang dioperasionalisasikan secara besar-besaran saat ini. Khusus untuk membandingkan tingkat daya saing produk tekstil dan kain, yang adalah hasil produksi utama (ekspor andalan) India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, dan Nepal, akan dilakukan dengan cara memperbandingan produktivas beberapa industri domestik di tiap-tiap negara asal. Oleh karena itu, produk komparatif utama yang akan dianalisis secara dalam menghasilkan produk yang harganya lebih murah dengan kualitas dan jenis produk tersebut.
B.     Ketidakberhasilan SAFTA Dalam Meningkatkan Kerjasama Ekonomi Intra-Kawasan SAFTA
            Ditinjau dari segi waktu, Asia Selatan memang jauh ketinggalan dalam melangsungkan konsep kerjasama ekonomi regional yang di mulai pada pertengahan tahun 1980-an, sedangkan kawasan ini baru mempromosikan kerjasama ekonominya pada tahun 1995 melalui sebuah kesepakatan regional. Proposal kerjasama ekonomi kawasan ini dimulai dengan inisiasi pembentukan SAPTA (South Asian Preferential Trade Agreement) kemudian SAFTA (South Asian Free Trade Agreement) dan memang transisi dari ke SAFTA mengalami penundaan yang seharusnya pada tahun 1999 menjadi pada tahun 2004 (final agreement). Walaupun ada kesepakatan nyata, namun sebenarnya negara-negara di kawasan Asia Selatan menunjukkan keengganan untuk saling membuka pasar mereka bagi sesama anggota SAARC.
C.     Komplementaritas Produk Yang Rendah
1.      Sumber Daya Manusia yang Kurang Terampil dan Terlatih.
2. Tingginya Modal dan Infrastruktur yang Kurang
3. Tingginya Biaya Transaksi dan Transportasi
            Selain karena alasan di atas, perdagangan informal juga mengembangkan mekanisme kelembagaan yang efisien untuk menegakkan kontrak, arus informasi, pengurangan dan sharing risiko dalam perdagangan. Berbagai studi menyatakan bahwa pedagang-pedagang informal juga menyediakan solusi yang lebih baik untuk menghindari peraturan yang kurang dan tidak efisien melalui jalur perdagangan formal, khususnya dalam penelitian di perbatasan India-Nepal.
D.    Kerangka Kerjasama Negara-Negara Asia Selatan
            Sejak tahun 1980-an Bangladesh, pemerintah aktif dalam membina kerjasama ekonomi dengan Korea Selatan untuk menanamkan modalnya dalam industri tekstil di Bangladesh dan memberikan pelatihan bagi pekerja pabrik tekstil. Pakistan juga cukup membuka negaranya terhadap mekanisme pasar, walaupun pemerintah masih menetapkan batas intervensi dan batas deregulasi ekonominya. Kebijakan ekonomi terbuka ini menghasilkan kemajuan dalam sektor industrinya, seperti industri tekstil di Pakistan. Negara Bhutan dan Nepal dapat dikategorikan sebagai negara weak state dengan weak power sehingga sangat bergantung pada negara besar, contohnya India. Negara Sri Lanka sangat aktif dalam menjalin kerjasama dengan Negara lain dan mendapat bantuan asing dari AS, India, dan China walaupun Sri Lanka memiliki polugri yang berisifat netral (non-aligned).
E.     Permasalahan Politik dan Keamanan Negara-negara Anggota SAARC
            Permasalahan yang muncul di kawasan tersebut dan kurang terselesaikan dengan baik melalui forum SAARC adalah instabilitas politik yang telah menghasilkan tiga peran antara India dan Pakistan, gerakan separatis di Sri Lanka oleh kelompok Mancan Tamil, ditolaknya sistem demokrasi di Nepal, serta ketidak-stabilan politik Bangladesh. Perang terhadap terorisme di Pakistan dan provinsi perbatasan utara-barat Pakistan, dan belum terselesaikannya masalah Kashmir telah meembuat gejolak dan ketidak-stabilan politik di kawasan tersebut.

Kesimpulan
Upaya meningkatkan liberalisasi perdagangan SAARC yang dilakukan melalui SAFTA menjadi pilihan bagi negara-negara yang tergabung didalam SAARC tersebut. Pelaksanaan SAFTA untuk mewujudkan pasar bebas dengan upaya menghapus berbagai kendala perdagangan seperti hambatan tarif maupun hambatan non-tarif.
            Pada dasarnya SAFTA merupakan langkah awal untuk mewujudkan integrasi ekonomi yang dicita-citakan SAARC meskipun tertinggal dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN ataupun di Uni Eropa, namun sebagai dasar untuk mewujudkan integrasi ekonomi SAFTA belum efisien. Upaya untuk membentuk pasar tunggal SAARC menghadapi kendala dari permasalahan ekonomi Negara SAARC. Pemerataan ekonomi negara SAARC masih belum terwujud. Kesenjangan ekonomi sangat mencolok di negara-negara SAARC, perbedaan antara negara kaya dan miskin masih sangat terasa, seperti negara India dan Pakistan yang masih mendominasi. Hal ini menjadi permasalahan yang hingga kini masih sangat sulit untuk diselesaikan.

Kelebihan        : Jurnal ini pembahasannya tentang efektivitas ekonomi di kawasan Negara-negara Asia Selatan sangat detail, jelas, referensinya juga banyak. Sehingga sangat cocok dan menarik untuk kita kaji dan dijadikan tinjauan pustaka pada tulisan yang lain.
Kelemahan      : Terdapat kalimat yang diulang-ulang serta tidak terdapat penjelasan atau kepanjangan mengenai kata singkatan.

3 komentar:

  1. Bagaimana pengaruh free trade area agreement terhadap perekonomian masyarakat kecil?

    BalasHapus
  2. Negara Bhutan dan Nepal dapat dikategorikan sebagai negara weak state dengan weak power sehingga sangat bergantung pada negara besar. Apa yang melatarbelakangi pernyataan tersebut?

    BalasHapus