Judul : Efektifitas South Asia Free Trade Agreement
(SAFTA) Dalam Meningkatkan Liberalisasi Perdagangan Intra-Kawasan South Asian Arrangement
Of Regional Cooperation (SAARC) Tahun 2007-2010
Jurnal : Jom FISIP Volume 2 No.1 Tahun 2014
Penulis : Dilika Putri
Latar Belakang
Kawasan
Asia merupakan salah satu kawasan yang kemajuan tingkat ekonomi negara-negara
di dalamnya menjadi sorotan dunia sejak tahun 1990-an. Ada beberapa negara yang
muncul menjadi macan Asia, seperti Jepang, China, Korea Selatan, Singapura,
Taiwan, India, bahkan Indonesia. Negara-negara tersebut berasal dari regional
Asia Timur, Asia Selatan, dan Asia Tenggara yang di dalamnya terdapat
masing-masing organisasi regional. Namun demikian, tidak dapat disangkal bahwa
kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara menjadi kawasan yang paling maju dalam hal
pertumbuhan ekonomi, terlihat dari total GDP, GNP, dan tingkat perdagangan
intra-kawasannya ditambah dengan diadakannya liberalisasi perdagangan dalam
kawasan tersebut. Sebaliknya, kemajuan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia
Selatan dan Asia Tengah cenderung tidak terlihat, walaupun ada organisasi yang
ditujukan untuk memperkuat kerjasama ekonomi.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui apa saja hambatan yang menyebabkan SAFTA kurang berhasil dalam
proses integrasi ekonomi SAARC. Secara lebih rinci tujuan penelitian ini dapat
dilihat pada uraian berikut:
1. Untuk menguraikan ketidakberhasilan
SAFTA dalam meningkatkan liberalisasi perdagangan intra-kawasan SAARC pada
tahun 2007-2010.
2. menguraikan hambatan-hambatan dalam
meningkatkan liberalisasi perdagangan intra-kawasan SAARC.
Pembahasan
A.
Potensi Ekonomi
Negara-Negara Kawasan Asia Selatan
Sektor
pertanian merupakan sektor yang mendominasi dalam struktur ekonomi di Asia
Selatan, yaitu mencapai sekitar sepertiga dari total GDP dan dua pertiga dari
total pekerjaan di kawasan tersebut. Sedangkan sektor manufakturnya banyak
didominasi oleh tekstil dan pakaian, serta pelaksanaan industri baja,
aluminium, petrokimia, dan peralatan lainnya yang sedang dioperasionalisasikan
secara besar-besaran saat ini. Khusus untuk membandingkan tingkat daya saing
produk tekstil dan kain, yang adalah hasil produksi utama (ekspor andalan)
India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, dan Nepal, akan dilakukan dengan cara
memperbandingan produktivas beberapa industri domestik di tiap-tiap negara
asal. Oleh karena itu, produk komparatif utama yang akan dianalisis secara
dalam menghasilkan produk yang harganya lebih murah dengan kualitas dan jenis
produk tersebut.
B.
Ketidakberhasilan
SAFTA Dalam Meningkatkan Kerjasama Ekonomi Intra-Kawasan SAFTA
Ditinjau
dari segi waktu, Asia Selatan memang jauh ketinggalan dalam melangsungkan
konsep kerjasama ekonomi regional yang di mulai pada pertengahan tahun 1980-an,
sedangkan kawasan ini baru mempromosikan kerjasama ekonominya pada tahun 1995
melalui sebuah kesepakatan regional. Proposal kerjasama ekonomi kawasan ini
dimulai dengan inisiasi pembentukan SAPTA (South Asian Preferential Trade
Agreement) kemudian SAFTA (South Asian Free Trade Agreement) dan memang
transisi dari ke SAFTA mengalami penundaan yang seharusnya pada tahun 1999
menjadi pada tahun 2004 (final agreement). Walaupun ada kesepakatan nyata,
namun sebenarnya negara-negara di kawasan Asia Selatan menunjukkan keengganan
untuk saling membuka pasar mereka bagi sesama anggota SAARC.
C.
Komplementaritas
Produk Yang Rendah
1.
Sumber Daya
Manusia yang Kurang Terampil dan Terlatih.
2.
Tingginya Modal dan Infrastruktur yang Kurang
3.
Tingginya Biaya Transaksi dan Transportasi
Selain karena alasan di atas,
perdagangan informal juga mengembangkan mekanisme kelembagaan yang efisien
untuk menegakkan kontrak, arus informasi, pengurangan dan sharing risiko dalam
perdagangan. Berbagai studi menyatakan bahwa pedagang-pedagang informal juga
menyediakan solusi yang lebih baik untuk menghindari peraturan yang kurang dan
tidak efisien melalui jalur perdagangan formal, khususnya dalam penelitian di
perbatasan India-Nepal.
D.
Kerangka
Kerjasama Negara-Negara Asia Selatan
Sejak tahun 1980-an Bangladesh,
pemerintah aktif dalam membina kerjasama ekonomi dengan Korea Selatan untuk
menanamkan modalnya dalam industri tekstil di Bangladesh dan memberikan
pelatihan bagi pekerja pabrik tekstil. Pakistan juga cukup membuka negaranya
terhadap mekanisme pasar, walaupun pemerintah masih menetapkan batas intervensi
dan batas deregulasi ekonominya. Kebijakan ekonomi terbuka ini menghasilkan
kemajuan dalam sektor industrinya, seperti industri tekstil di Pakistan. Negara
Bhutan dan Nepal dapat dikategorikan sebagai negara weak state dengan weak
power sehingga sangat bergantung pada negara besar, contohnya India. Negara Sri
Lanka sangat aktif dalam menjalin kerjasama dengan Negara lain dan mendapat
bantuan asing dari AS, India, dan China walaupun Sri Lanka memiliki polugri
yang berisifat netral (non-aligned).
E.
Permasalahan
Politik dan Keamanan Negara-negara Anggota SAARC
Permasalahan yang muncul di kawasan
tersebut dan kurang terselesaikan dengan baik melalui forum SAARC adalah
instabilitas politik yang telah menghasilkan tiga peran antara India dan
Pakistan, gerakan separatis di Sri Lanka oleh kelompok Mancan Tamil, ditolaknya
sistem demokrasi di Nepal, serta ketidak-stabilan politik Bangladesh. Perang
terhadap terorisme di Pakistan dan provinsi perbatasan utara-barat Pakistan,
dan belum terselesaikannya masalah Kashmir telah meembuat gejolak dan
ketidak-stabilan politik di kawasan tersebut.
Kesimpulan
Upaya
meningkatkan liberalisasi perdagangan SAARC yang dilakukan melalui SAFTA
menjadi pilihan bagi negara-negara yang tergabung didalam SAARC tersebut.
Pelaksanaan SAFTA untuk mewujudkan pasar bebas dengan upaya menghapus berbagai
kendala perdagangan seperti hambatan tarif maupun hambatan non-tarif.
Pada dasarnya SAFTA merupakan
langkah awal untuk mewujudkan integrasi ekonomi yang dicita-citakan SAARC
meskipun tertinggal dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN ataupun di Uni
Eropa, namun sebagai dasar untuk mewujudkan integrasi ekonomi SAFTA belum
efisien. Upaya untuk membentuk pasar tunggal SAARC menghadapi kendala dari
permasalahan ekonomi Negara SAARC. Pemerataan ekonomi negara SAARC masih belum
terwujud. Kesenjangan ekonomi sangat mencolok di negara-negara SAARC, perbedaan
antara negara kaya dan miskin masih sangat terasa, seperti negara India dan
Pakistan yang masih mendominasi. Hal ini menjadi permasalahan yang hingga kini
masih sangat sulit untuk diselesaikan.
Kelebihan : Jurnal ini pembahasannya tentang
efektivitas ekonomi di kawasan Negara-negara Asia Selatan sangat detail, jelas,
referensinya juga banyak. Sehingga sangat cocok dan menarik untuk kita kaji dan
dijadikan tinjauan pustaka pada tulisan yang lain.
Kelemahan : Terdapat kalimat yang diulang-ulang
serta tidak terdapat penjelasan atau kepanjangan mengenai kata singkatan.
Bagaimana pengaruh free trade area agreement terhadap perekonomian masyarakat kecil?
BalasHapusReview jurnal sangat menarik
BalasHapusNegara Bhutan dan Nepal dapat dikategorikan sebagai negara weak state dengan weak power sehingga sangat bergantung pada negara besar. Apa yang melatarbelakangi pernyataan tersebut?
BalasHapus